Temu Kangen Para Pemegang Pena

Damai Menyelimuti Launching FLP Sidoarjo

Sepanjang jalan Sidoarjo-Surabaya


Tepat pukul enam pagi. Persis seperti yang sudah kuperhitungkan sebelumnya. Kami berdua ditemeni dua krucil merambat sepanjang jalan tol Sidoarjo-Waru. Teman setia yang duduk di sebelah kananku sibuk mengingatkanku untuk segera cari info Wonorejo. Karena buta Surabaya, kami perlu cari info alamat rumah Mbak Sinta. Semalam yayangku sempat ngobrol dengan tetangga seputar Rungkut. Lagi-lagi jawaban yang kami terima sama. “Ooo, itu lho timurnya Wisma Sier sebelah utara”. Lho kok jadinya alamat yang kucari ternyata bangunan toko. Enggak mungkin kan. Kamipun diliputi keraguan. SMS ke beberapa teman semalam belum ada yang ngejawab. Ah, mungkin sudah sembunyi di balik selimut kali, batinku.

Karena diburu waktu dan roda kendaraan kami mengarah ke daerah Sier, terpaksa mau tidak mau aku calling juga ke mbak Sinta (Maaf ya mbak, jadinya rada-rada mengganggu istirahat mbak gitu. Mudah-mudahan gak pa pa ya….). Payahnya lagi nich, aku enggak konfirmasi ke panitia tentang jam berapa aku harus jemput. Informasi dari Mbak Sinta, beliaunya ngisi acara jam sepuluh. Paling tidak kan, jemputnya juga mendekati jam beliau. Hah!!, aku jadi semakin bersalah deh mbak, terlalu pagi ya menjemputnya…Hik hik.. Tapi luar biasa. Beliau sangat santun dan nggak marah kok. Terbukti dari senyuman beliau yang selalu menghiasi raut wajahnya ketika kami berbincang sepanjang jalan Rungkut menuju tempat lokasi. Padahal nih Mbak Sinta baru terbang membedah buku Tahta Awan di Yogya, sehari sebelum meluncur ke launcing Flp Sda. Keramahan pemegang pena Ketika Upik Bertanya membuatku harus banyak belajar banyak darimu mbak…dan sekali lagi saya mohon maaf ya, klo jemputnya terlalu pagi dan salah jalan lho..seharusnya kita tadi gak lewat Juanda, but enggak pa pa kan muter-muter jadinya ).

Sampai Lokasi


Perjalanan kamipun akhirnya berujung di gedung Van Hoober tempat launching perdana FLP Sidoarjo. Alhamdulillah, kami datang jam delapan lewat dikit. Artinya enggak molor banget kan…(alasan.com nich). Nyapa sana nyapa sini, melongok ke dalam ruangan yang sudah dibanjiri para peserta launching, dan selanjutnya memersilahkan Mbak Sinta menuju singgasana empuk bersama pembicara yang tak lain Mas Haikal yang lebih dulu datang. Kemudian aku mohon ijin tuk bergabung dengan panitia yang ada di bagian registrasi bersama Mbak Wiwik dkk.

Wow, keren..banyak banget tuh yang datang persis seperti mimpi kami sebelumnya. Kami sangat optimis dengan launching kali ini. Selang beberapa menit, sesuai planning A, Mbak Ilma yang alumni FLP Hongkong membuka acara. Kali ini kedamaian menyelimuti tubuhku kala mendengar tilawah yang dibacakan salah satu personel tim nasyid. Mudah-mudahan para malaikat turut mengamini do’a kami agar acara berjalan sesuai rencana.

Giliran selanjutnya, sambutan ketua panitia sekaligus ketua FLP Sidoarjo Rafif Amir yang mampu membelalakkan para peserta. Pasalnya dalam sambutannya beliau ngiming-ngimingin kegitan FLP. Mulai dari kegiatan lesehan yang diadakan di hotel, kafe sampai di selasar pernah dilakoni. Tidak hanya nulis dan nulis yang digarap, FLP juga merefresh kala kejenuhan datang dengan ngadakan jalan-jalan alias wisata. Wow, mantap bikin tambah ngiler kan. Meski masih belia, Nampak jelas dalam setiap kata yang terucap sangat berbobot. Usut punya usut memang beliau punya pengalaman segudang. Mau tau? Serbuuuu…

Puncak acara yang kita tunggu akhirnya datang juga. Mas Haikal yang jago memberikan motivasi menulis menyulap keheningan ruangan berkapasitas 150 kepala menjadi hidup kembali. Pendingin ruangan yang sedari tadi menusuk-nusuk pori kulitku perlahan tapi pasti diserang dengan gencaran hangatnya panah mutiara kata. Tubuhku seakan dibangkitkan dari tidur panjang. Aku seakan-akan dibawa ke sebuah perkampungan yang isinya penuh tantangan. Apalagi bagiku yang saat ini masih merayap bahkan jalan di tempat dan memang perlu di charge. Aku yang tipe visual sangat terbantu dengan slide yang pas dengan seleraku. Nah, begini yang kumau slide yang bikin nggak ngantuk cos full gambar dan sedikit tulisan.

Kata Mas Haikal pemilik suara mantap ni, Setiap tetes tinta seorang penulis adalah darah bagi perubahan peradaban. Karenanya, perhatikan bagaimana ujung penamu bergerak. Subhanallah. Aku jadi teringat ketika mendapat telepon dari salah satu pembaca surat kabar yang konsultasi tentang masalah yang dialami putri kembarnya gara-gara beliau membaca opiniku di Japos. Aku jadi merinding saat itu. Bak psikolog yang dihujani lontaran pertanyaan kliennya, akupun memberikan alternatif solusi yang menurut pengalaman cocok dan bisa diterapkan. Dan memang benar apa yang dikatakan Mas Haikal, seorang penulis harus bisa mempertanggungjawabkan tulisannya dihadapan pembaca, apalagi kelak di hari perhitungan. Jadi, mulailah menulis dengan mengusung misi, seperti halnya kang Abik,HTR, Asma Nadia, Mbak Sinta yang sudah kelas kakap atau tulisan Mas Rafif, Mbak Eni Shabrina yang menurutku juga enak dibaca dan pastinya ada nilai yang bisa kita ambil ketika kita melahap sajian beliau. Menurutku, lantaran karena penulisnya menuangkan ide dengan hati dan melibatkan emosi sehingga benar-benar bisa mempengaruhi pembaca. Seperti cuplikan Yusuf Qardhawi dalam tampilan slide yang mengingatkan kita bahwasanya setiap penulis pasti akan mati dan berlalu but waktu akan mengabadikan apa yang telah ditulisnya. Maka janganlah anda menulis dengan tangan anda, selain yang dapat membuat anda tersenyum ketika melihatnya kembali. Jadi marilah berlomba dalam kebaikan menuju ridho ilahi sebab hidup hanyalah sekejab.

Aku sendiri nggak muluk-muluk dulu dech. Lha wong masih belajar kok pinginnya seperti penulis andal (Hik hik hik malulah). Kadang bermimpi pingin banget produktif seperti Mbak Sinta misalnya yang menyempatkan bangun sejak jam 12 malam. Aku??? Masih di pulau kapuk mbak…. Mudah-mudahan semangat beliau-beliau menular ke aku. Amin.

Ada oleh-oleh tips yang bisa kita pakai sebagai pemula sepertiku. Mau tau triknya ??? Sekaranglah saatnya duduk dan mainkan penamu. Karena setiap kalimat adalah mutiara maka janganlah kita sekali-kali men delete karya kita, yang mungkin belum rizkinya lolos saat audisi atau coretan kita yang masih mentah nih, jangan kasih tunjuk kepada orang lain (entar diketawain lho). Dan yang terakhir karena tulisan adalah mencerminkan diri kita, hendaknya kita menghormatinya. Klo perlu beri penghargaan.


Namun dibalik itu semua realita yang sering kita hadapi adalah sering kali mood nggak mau datang. Pegang pena malas apalagi melirik keyboard. Otomatis kegiatan menulis terhenti. Alasannya satu bad mood selalu hadir di depan mata. Menurut pemateri yang diserbu tumpukan pertanyaan dari peserta, menulis tidak harus menunggu mood datang, tetapi kitalah yang menjemput mood agar mau datang kepada kita. Bagaimana caranya??? Dengan cara mencipta atau mengorkestra dunia kita. Contohnya nih buat emak-emak, kita akan betah berjam-jam memelototi layar monitor jika si kecil sudah tidur, masakan dan cucian kelar misalnya, atau kalau perlu semprot ruangan dengan parfum/aroma yang kita suka. Seandainya pikiran masih ngadad tidak ada salahnya bikin secangkir kopi susu atau jalan-jalan sejenak tuk refresh. Bagi kita yang tipe auditori bisa diselingi musik instrumental, nasyid atau tilawah. Cara lain dengan menempel foto atau gambar yang membuat imajinasi kita tambah liar. Kabarnya Kang Abik ketika menyelesaikan novel ayat-ayat cinta, beliau menempel peta Mesir di dinding kamarnya. Alhasil sajian novelnya nikmat seakan-akan kita mengarungi padang Sahara di negeri seribu menara itu.

Ketika bad mood berhasil disingkirkan, kita juga perlu waspada dengan penyakit yang datangnya dari dalam diri kita, seperti rasa malas. Monster yang satu ini perlu dibasmi dengan mendisiplinkan diri sehingga jemari kita tetap lincah menari di atas keyboard.

Yah, rasa ngantukku mulai menggoda…. To be continyu ya…..

GKA, 14 Agustus 2011

Ditulis oleh:
Jamilatunheni*

*) Penulis adalah Bendahara FLP Sidoarjo

Pos ini dipublikasikan di Catatan Anggota. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s