Menulis, Mengukir Peradaban

oleh:
Rafif Amir Ahnaf*

“Tuan, sebutir pelurumu yang nanti menembus kepalaku hanya akan membunuhku. Tapi tulisan dan buah pikiranku akan menembus ratusan, ribuan, jutaan kepala orang.”

Kata-kata itu bukan keluar dari lisan orang sembarangan, tapi terucap dari lisan agung seorang ulama besar dengan karya fonumenalnya, Fi Zhilalil Quran. Sayyid Qutb, begitu ia disebut. Kata-kata itu sendiri lahir saat ia menghadapi detik-detik terakhir eksekusi mati.

Adalah Sinta Yudisia, seorang penulis Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Timur, yang menjadikan kalimat ‘sakti’ Sayyid Qutb itu sebagai motivasi bagi perjalanan dakwah penanya. Lebih dari empat puluh buku telah ia tulis dalam waktu singkat, seakan mengatakan bahwa menulis adalah kebutuhan tak terelakkan sepanjang nafas kehidupan.

Sejatinya, bukan hanya Sinta, bukan hanya Helvy Tiana Rosa, bukan hanya Habiburrahman El-Shirazy, bukan hanya Asma Nadia yang berhak dan layak untuk mewarisi generasi para da’i terdahulu, melestarikan dan melaksanakan wasiat tersirat Sayyid Qutb di akhir hayatnya. Semua orang punya hak, layak, dan bisa melakukannya! Apalagi yang mengaku sebagai du’at qobla syai’in.
Tidak hanya Sayyid Qutb, bahkan seorang sahabat Nabi yang sering dijuluki gudang ilmu, Ali bin Abi Thalib ra. pernah berkata, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Kali ini, kalimat sakti itu menjadi bahan bakar Hernowo untuk merangkai hidup dengan jalinan kata-kata. Lalu muncul Ibnu Sina di kalangan profesional yang juga menulis. Imam Bukhori dan Imam Muslim dengan Shahihnya yang menjadi rujukan utama kitab-kitab hadist. Berikutnya muncul nama Imam Ghazali dengan karyanya yang tak lekang zaman, Ihya’ Ulumuddin. Hasan Al-Banna dengan Risalah Ta’alim dan puluhan kitab referensi dakwah pergerakan lainnya. Sa’id Hawa, Fathi yakan, Aidh Al-Qarni, Ustadz Rahmat Abdullah, dan ulama mutakhirrin lainnya.

Sebagian yang saya sebutkan mungkin ada yang sudah meninggal, tapi ia meninggal dengan meninggalkan jejak abadi yang bisa dibaca bahkan oleh para cucu dan generasi kesekian dari mereka. Tulisan-tulisan itu akan menjadi cahaya, menjadi pahala yang senantiasa mengalir, tak pernah habis sebelum kiamat datang.

Peradaban Islam, kata Abdullah Azzam, diukir oleh dua hal; hitam tinta para ulama dan merah darah para syuhada. Keduanya bersinergi mengguncang dunia, memecah simpul-simpul zalim yang mengikat kejayaan Islam sekian lama. Jika tak ada ruang untuk memilih diantara keduanya, maka melaksanakan keduanya adalah puncak kemuliaan. Namun memilih satu diantara dua juga bukanlah sebuah kesalahan. Seperti Imam Ahmad yang memilih syahid di tengah penguasa penganut mu’takzilah dan Imam Syafi’i yang memilih meninggalkan negeri Bagdad menuju mesir demi sebuah tujuan pelestarian ilmu. Dari tangannyalah kemudian lahir karya-karya besar yang menyejarah.

Saya percaya, hakikatnya semua orang bisa menulis. Karena menulis tak butuh bakat, ia hanya butuh tekad dan kemauan. Menulis hanyalah pekerjaan ‘mengikat’ ilmu yang didapat dari penggalan kehidupan, membaca peristiwa, atau mengungkap makna dari kata-kata. Menulis semudah berbicara, karena ia menangkap gerak jiwa tanpa menyertakan lisan. Bedanya, dakwah dengan lisan akan segera selesai begitu ceramah atau taujih usai, namun tulisan tetap bisa dibaca berulangkali kapan dan di manapun.

Saya teringat beberapa hal yang sering diungkapkan penulis dalam beberapa kesempatan. “saya merasa ada yang menggerakkan tangan saya ketika menulis”, “Saya meminjam tanganNya untuk menulis”. Maka tak heran jika kemudian tulisan-tulisan itu menjadi cahaya dan penulisnya adalah para penebar cahaya. Allah menolong mereka untuk menghasilkan karya yang luar biasa, karya yang menggugah dan mengubah hidup. Ada gerak-gerak gaib yang turut menggerakkan pena para penulis untuk sampai pada cahaya; kata-kata bercahaya.
*Penulis, Ketua Umum Forum Lingkar Pena (FLP) Sidoarjo
**) Dimuat di Radar Surabaya, 23 Oktober 2011
Pos ini dipublikasikan di Catatan Anggota dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s